Selasa, 28 September 2010

PERAN MEDIA DALAM PEMBENTUKAN OPINI MASYARAKAT DI WILAYAH PERBATASAN MENGENAI JATI DIRI BANGSA INDONESIA


PERAN MEDIA DALAM PEMBENTUKAN OPINI MASYARAKAT DI WILAYAH PERBATASAN MENGENAI JATI DIRI BANGSA INDONESIA

Oleh : Amiruddin Z.



Latar Belakang Masalah
            Hidup ini dikendalikan media massa, kehadiran/keberadaan media massa di suatu lokasi/tempat adalah sangat penting. Dengan keberadaan media massa dapat meningkatkan peradaban masyarakat di lokasi/ tempat tersebut. Masyarakat memperoleh berbagai informasi sekaligus mempengaruhi sikap atau membentuk cara pandang.  Penyebaran informasi adalah usaha komunitas melalui saluran komunikasi untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas. Saluran komunikasi ini dapat dianggap sebagai penerus atau saluran pesan yang berasal dari sumber informasi kepada sasaran komunikasi  ( Rogres, 1978 :16 )
Peran media di dalam penyampaian informasi diungkapkan seorang penulis ternama Alfin Tofler bahwa peradaban manusia dimasa ini telah memasuki era baru yang disebut “ The Third Wave “ dikatakan bahwa fungsi informasi menjadi jauh lebih penting daripada era sebelumnya. Dapat dipahami pengaruh informasi yang disampaikan melalui media sangat berperan dalam pembentukan opini masyarakat. Jhon Naisbit mengungkapkan bahwa ada sepuluh pertanda zaman yang kini merubah hidup dan kehidupan masyarakat Amerika, dari kesepuluh pertanda zaman tersebut yang pertama kali adalah information society atau masyarakat informasi.
Carter (1973) menganggap komunikasi sebagai satu tingkah laku. Menurut beliau apabila seseorang berkomunikasi dia berusaha untuk mencari informasi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya supaya dia mempunyai satu gambaran yang lebih tepat tentang keadaan yang dihadapinya . Chaffe (1980) dalam Rahmat (1985 : 215-217) mengemukakan tiga pendekatan untuk melihat efek media massa :

Pertama    : Pendekatan yang berkaitan dengan media massa
Kedua       : Pendekatan dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada khalayak seperti penerima informasi, perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku (perubahan kognisi, efeksi, bihavioral)
Ketiga       : Meninjau suatu observasi yang dikenal efek media massa.

Pendekatan tersebut menurut Gonzales (1978: dalam Jahi, 1988 :17) disebut tiga dimensi efek komunikasi massa itu :
  • Efek Kognitif yang meliputi peningkatan kesadaran belajar dan tambahan pengetahuan
  • Efek Afektif yang berhubungan dengan emosi, perasaan dan sikap.
  • Efek Konatif erat hubungannya denga niat dan kecenderungan dan berperilaku menurut cara tertentu

Adanya asumsi bahwa masyarakat pada wilayah perbatasan menggunakan media luar negeri, lebih mengenal negara tetangga, dengan demikian dikhawatirkan akan mengalami kelunturan jati diri sebagai bangsa Indonesia, oleh karenanya dipandang perlu penelitian ini.

Permasalahan
Berdasarkan Uraian diatas, maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut  :
Bagaimana Peran Media dalam pembentukan opini masyarakat mengenai jati diri Bangsa Indonesia di wilayah perbatasan ?
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peran media dalam pembentukan opini masyarakat mengenai jati diri Bangsa Indonesia di wilayah perbatasan.

Pembatasan Masalah.
Masyarakat yang menjadi objek penelitian ini adalah masyarakat yang berdomisili di  wilayah perbatasan yang berada dalam cakupan wilayah kerja BBPPKI Medan. Namun karena faktor keterbatasan dana, waktu dan tenaga, maka dibatasi yaitu hanya wilayah, Provinsi Sumatera Utara yaitu : Kabupaten Batubara, Provinsi Riau yaitu : Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Kepri adalah : Kabupaten Bintan dan Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kalimantan Timur  adalah : Kabupaten Malinao dan Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Barat adalah : Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sambas, dan Kabupaten Bengkayang.
Objek penelitian ini adalah Media yang beredar di wilayah perbatasan dalam cakupan kerja BBPPKI Medan, meliputi media elektronik, dan media cetak .

Kajian Teoritis
1.         Media Dalam Pembentukan Opini
            a.      Peran Media
         Peran media massa dalam kehidupan sosial menurut beberapa literatur tidak diragukan lagi, walaupun kerap dipandang secara berbeda-beda. Namun tidak ada yang menyangkal atas peran media massa yang signifikan dalam masyarakat moderen. MC.Quail dalam bukunya Mass Communication Theories (2000:66) menerangkan opini publik terhadap peran Media Massa.
Pertama. Melihat Media Massa sebagai Window On Events And Experience atau khalayak memandang apa yang terjadi di luar sana.
Kedua. Media Massa dianggap A miror  Of event In Society And The Word Impleying A Faith Full Relection atau cermin dari berbagai peristiwa yang ada.
Dikatakan beliau media massa merupakan sumber ketahanan atau alat kontrol, menagemen dan motivasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kata atau sumber daya lainnya. Dari beberapa Pengkajian maupun tulisan dinyatakan bahwa hampir semua tempat, media massa diharapkan ikut mengembangkan kepentingan nasional dan menunjang nilai nilai utama pola perilaku tertentu karena sesungguhnya media massa itu sendiri berfungsi sebagai pemberi informasi, pendidik, hiburan dan kontrol sosial

b.      Pengertian Opini dan Opini Publik
         William Albiq dalam bukunya Modern Public Opinion “ yang dikutip oleh Meinanda (1980 : 29 ) mengemukakan bahwa “Opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Opini merupakan “ Expressed statement yang biasa diucapkan dengan kata kata. Isyarat, atau cara lain yang mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya. Hal ini berarti opini harus dinyatakan. 
Subyek dari suatu opini biasanya masalah masalah baru. Opini berupa reaksi pertama dimana orang mempunyai rasa ragu ragu tentang sesuatu, yang lain dari kebiasan, ketidakcocokan, dan adanya perubahan penilaian. Unsur unsur ini mendorong orang untuk saling mempertentangkannya ( Albiq dalam Sunarjo, 1984 :31)
Dengan demikian pengertian opini atau pendapat mempunyai dua unsur yaitu :
1)      Adanya pernyataan
2)      Mengenai masalah yang bertentangan.
Opini atau pendapat itu dapat dinyatakan melalui media massa seperti Televisi, Radio, maupun Suratkabar atau Majalah. Opini ini dikemukakan oleh berbagai kalangan dari berbagai kalangan. Karena itu opini mempunyai ciri ciri :
1)      Selalu diketahui dari pernyataan pernyataan.
2)      Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat.
3)      Mempunyai pendukung dalam jumlah besar.
Selanjutnya pengertian publik menurut Soekamto dalam Sunarjo (1984 :19) adalah kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui media komunikasi misalnya pembicaraan secara pribadi, desas desus, melalui media komunikasi massa misalnya surat kabar, radio, televisi dan sebagainya.
Publik menaruh minat pada persoalan atau kepentingan yang sama, mereka terlibat dalam suatu pertukaran pemikiran untuk mencari penyelesaian atau kepuasan atas persoalan itu ( Hartono dalam Rousydy, 1985 :314 ). Menurut Schramm dalam Sunarjo dan Sunarjo ( 1981 : 2) yang menyebabkan timbulnya publik adalah :
1)      Sebagai respons terhadap suatu masalah.
2)      Adanya perhatian dan minat terhadap sesuatu hal yang umum sifatnya dan menyangkut kepentingan umum pula.
Secara singkat Blumer dalam Sastropoetro (1990 : 108 ) mengemukakan ciri ciri publik sebagai berikut :
1)            Dikonfrontasi / dihadapkan kepada sesuatu issu.
2)            Terlihat dalam diskusi mengenai issu tersebut.
3)            Memiliki perbedaan pendapat tentang cara mengatasi issu.
Dari kata opini dan publik timbullah istilah yaitu opini publik.
Para ahli mengemukakan berbagai rumusan atau definisi tentang opini publik, yang berbeda satu sama lain. Menurut Childs (1965 ) hal ini terjadi karena adanya perbedaan interest (titik perhatian) dalam mengkaji opini publik tersebut. Misalnya ilmuan politik membatasi untuk kajian politik, kemudian pihak pihak lain menitikberatkan pada cara pembentukan pendapat atau tentang kualitas dari pendapat pendapat yang dinyatakan, pengaruh pengaruhnya dan sebagainya (Sastroepoetro, 1990 :117 )
Cutlip dan Center dalam Sastroepoetro            (1990 :117 ) bahwa istilah opini publik sangat licin, sukar untuk diwajibkan, sulit pula untuk didefinisikan, sulit untuk diukur dan tidak mungkin untuk dilihat. Namun kekuatannya yang meresap sangat mudah dirasakan. Meskipun demikian, dari sejumlah teori yang ada, Peneliti mencoba mengutip beberapa teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini.
         Cutlip dan Center (1961) dalam bukunya “ Effective Public Relations “ yang dikutip oleh Sastroepoetro (1990 : 71 ) menyatakan bahwa : “ Opini Is The Sum Of Accumulated Individual Opinion On And Issue In Public Debates And Effecting A Group Of People “. Artinya Opini publik adalah jumlah akumulasi pendapat individual tentang suatu issu dalam pembicaraan secara terbuka dan pengaruh terhadap sekelompok orang. Dengan demikian opini publik terbentuk melalui suatu kegiatan yang berupa debat, pembicaraan, atau pertukaran pikiran antara individu individu yang berada dalam suatu kelompok.
Sedangkan Iris dan Protho (1965) dalam bukunya : The Politics Of Opini  adalah “ The Ekspression Of Attitude On A Social Issue “.
Lebih lanjut Irish dan Protho dalam Susanto (1985 :90) menyatakan : suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat atau opini publik. Sebab menurut mereka sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses komunikasi, melainkan masih merupakan suatu proses dalam diri manusia, masih merupakan sikap.
Disamping itu, diperlukan pula adanya issu atau masalah agar sesuatu itu dapat dinilai sebagai opini publik. Suatu pendapat akan menjadi issu apabila mengandung unsur kemungkinan pro dan kontra. Suatu issu akan menjadi issu sosial apabila ia menyebabkan orang lain akan membentuk pendapatnya dan menyatakan ataupun memberikan tanggapannya atas persoalannya yang dibahas oleh pendapat semula (Irish dan Protho, dikutip oleh Susanto, 1985 : 92 )
Dengan demikian, opini publik merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur unsur sebagai berikut :
1.      Adanya masalah atau situasi yang bersifat kontroversial yang menimbulkan kontra.
2.      Adanya publik yang terikat kepada masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya

2.         Wilayah Perbatasan
Indonesia bila dilihat dari sisi geografis adalah merupakan negara besar di Asia Tenggara. Keberadaan Negara Indonesia terletak diantara 6 0 Linta Utara, 11 0 Lintang Selatan dan diatas 95 0 Bujur Timur, dan 141 0  Bujur Barat, berada diantara Benua Asia-Australia dan diantara Samudra Hindia-Pasifik. Indonesia adalah merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 13.667 pulau.
Dalam Draft Rancangan Pembangunan Nasional Jangka Panjang (2004-2009) pada Bab 24 tentang pengurangan ketimpangan Pembangunan Daerah dijelaskan bahwa wilayah Perbatasan dan terpencil kondisinya masih terbelakang. Perhatian berbagai pihak terhadap pembangunan di kawasan perbatasan pada beberapa tahun terakhir ini semakin besar.
Indonesia disamping memiliki potensi wilayah yang strategis bagi pertahanan dan keamanan negara, namun di beberapa wilayah perbatasan terjadi kesenjangan pembangunan yang cukup besar dengan negara tetangga yang dikhawatirkan dalam jangka panjang akan menimbulkan kerawanan. Untuk wilayah perbatasan (khususnya perbatasan darat) disamping masih rendahnya dana pembangunan, penyebab utama ketinggalan adalah akibat dari arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi in word looking sehingga seolah olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan kita.
Sementara itu, pulau pulau kecil yang ada di Indonesia sulit berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau. Diantaranya banyak yang tidak berpenghuni atau sangat sedikit jumlah penduduknya, serta belum tersentuh oleh pelayanan dasar dari pemerintah seperti,   Sekolah,  Puskesmas, dan lain lain.
Selanjutnya disebutkan program pengembangan wilayah perbatasan ditujukan untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI melalui penetapan hak kedaulatan NKRI yang dijamin oleh hukum internasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dengan menggali potensi ekonomi, sosial dan budaya serta potensi lokasi perbatasan.
Dan menjadikan wilayah perbatasan sebagai halaman depan negara sehingga tercapai hubungan yang harmonis  antara negara RI dengan negara tetangga dan antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat negara tetangga. Kegiatan pokok yang akan dilakukan adalah :
1.      Fasilitasi pemerintah daerah untuk mengembangkan wilayah perbatasan antara negara sehingga wilayah perbatasan menjadi beranda depan negara, baik kondisi fisik maupun kehidupan masyarakatnya tidak sangat jauh berbeda dengan yang ada di negara tetangga.
2.      Deklarasi serta penetapan garis perbatasan antara negara dengan tanda tanda batas yang jelas
3.      Pengamanan wilayah perbatasan dari kegiatan illegal dan fasilitas pergerakan barang dan orang secara sah dan mudah.
4.      Pengembangan wilayah perbatasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam lokal melalui pengembangan sektor sektor unggulan.
5.      Peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya dalam bidang kesehatan dan pendidikan.
6.      Peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat.
7.      Peningkatan wawasan kebangsaan masyarakat, serta
8.      Penegakan supermasi hukum serta aturan perundang undangan terhadap setiap pelanggaran yang terjadi di wilayah perbatasan.

Mengingat bentuk geografis Indonesia, yaitu sebagai negara kepulauan yang dua pertiga wilayahnya terdiri dari lautan dan diantara pulau pulaunya ada yang memberikan cukup ruang dan kedalam bagi penyusunan perlawanan. Tidak terkecuali melalui pemberitaan media massa (keberadaan media asing) dapat membuat kedangkalan rasa kecintaan terhadap tanah air Indonesia, menipisnya rasa kebangsaan dan hilangnya jati diri bangsa Indonesia.

Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, metode yang hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya, tanpa mencari dan menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi ( Rakhmat, 1997 :34).
Penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu, keadaan gejala, atau kelompok tertentu. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu

1.         Lokasi Penelitian
            Dengan berbagai pertimbangan dan pengkajian secara intern BBPPKI Medan ditetapkan lokasi yang dijadikan sampel dalam penelitian ini yaitu :
§               Untuk Provinsi Sumatera Utara yaitu : Kabupaten Batubara.
§               Untuk Provinsi Riau yaitu : Kabupaten Rokan Hilir
§               Untuk Provinsi Kepri adalah : Kabupaten Bintan dan Kabupaten Tanjung Balai Karimun
§               Untuk Provinsi Kalimantan Timur  adalah : Kabupaten Malinao dan Kabupaten Nunukan
§               Untuk Provinsi Kalimantan Barat adalah : Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sambas, dan Kabupaten Bengkayang, lokasi tersebut dinilai dapat mewakili setiap provinsi
§               Sementara Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi NAD yang juga merupakan wilayah kerja BBPPKI Medan, namun tidak diikutsertakan pada penelitian ini.

2.         Informan Yang Diwawancarai
1.            Humas Setda Kab/Kota/Kabid Informasi Dinas Perhubungan
2.            DPRD Kab/Ko ( yang membidangi informasi)
3.            Dinas Pendidikan / Tokoh Pendidikan
4.            Tokoh Adat / Budayawan
5.            Organisasi Pers
6.            Organisasi Radio
7.            Organisasi Televisi
8.            Organisasi KNPI Setempat/Tokoh Pemuda
9.            Tokoh Organisasi Masyarakat
10.        Tokoh Agama
11.        KPID

3.         Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan  dengan wawancara mendalam terhadap informan dan studi dokumen.
            Pengumpulan data primer dilakukan dengan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) sesuai pedoman wawancara yang disusun berdasarkan permasalahan dan tujuan yang akan dicari dalam penelitian. Untuk lebih mendalami secara akurat dalam pengumpulan data ini juga dilakukan melalui teknik snowball (bola salju).
Prosedur dan mekanisme melalui penerapan dengan metoda atau teknik snowball ini dilakukan secara berantai, makin lama informan semakin besar seperti halnya bola salju. Pada tingkatan operasional, pengumpulan data kepada para key informan ini dicari yang relevan untuk di interview, dan selanjutnya diminta untuk menyebutkan nara sumber lainnya dengan spesifikasi/spesialisasi yang sama, yang biasanya saling mengenal karena mereka satu spesialisasi (Darmadi D, dkk:1998;34, Kristi Poerwandari:2001;61) 
Pengumpulan data melalui metoda ini dilakukan dengan pertama, menentukan nara sumber yang pertama kali di wawancarai, kemudian kedua meminta kepada nara sumber pertama itu untuk menyebutkan key informan yang berikut dan seterusnya sehingga data yang diperoleh semakin kaya untuk kepentingan analisisnya. Wawancara dianggap cukup dan bisa diakhiri ketika pemberi informan terkahir memberikan jawaban yang sama dan tidak menyimpang dari nara sumber informasi sebelumnya

4.         Teknik Analisis Data
·              Data primer dan skunder yang telah diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, catatan lapangan, kliping media cetak, buku laporan, buku-buku pedoman dan peraturan, kepustakaan dan sebagainya dikumpulkan dan ditelaah serta dikaitkan dengan permasalahan dan tujuan penelitian
·              Data yang telah dirangkum berdasarkan permasalahan yang ingin diperoleh jawabannya, kemudian dipelajari dan dianalisis secara mendalam berdasarkan alur pemikiran dan sistematika penulisan.

Pembahasan Hasil Penelitian
1.         Aspek Geografis.
Indonesia bila dilihat dari sisi geografis adalah merupakan negara besar di Asia Tenggara. Keberadaan negara Indonesia terletak diantara 6 0 Lintang Utara, 110  Lintang Selatan dan diatas 95 0 Bujur Timur, 141 0 Bujur Barat, berada diantara benua Asia-Australia dan diantara Samudra Hindia-Pasifik. Indonesia adalah merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 13.667 pulau.
Secara umum wilayah perbatasan masih merupakan wilayah rertinggal dengan sarana dan prasaran sosial dan ekonomi yang masih sangat terbatas akibat dari kebijakan pendekatan pembangunan di wilayah tersebut selama ini lebih mengutamakan pada pendekatan keamanan (security approach) dari pada pendekatan kesejahteraan ( prosperty approach). Dampak dari pendekatan seperti itulah yang mengakibatkan wilayah perbatasan ini menjadi daerah yang tidak tersentuh oleh dinamika pembangunan dan pusat pelayanan pemerintah lainnya yang menyebabkan masayarakatnya menjadi relative miskin dan tertinggal . sehingga secara ekonomi, masyarakat di wilayah ini lebih berorientasi kepada negara tetangga Malaysia, yang telah membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di sepanjang koridor perbatasannya melalui berbagai kegiatan ekonomi dan perdagangan yang telah memberikan keuntungan bagi masyarakatnya.
Dari aspek politik dan sosial budaya, masyarakat di wilayah inipun lebih cenderung berorientasi pada Negara tetangga karena rendahnya akses informasi dan komunikasi yang mereka peroleh sehari-hari, sehingga dikhawatirkan akan melunturkan nilai-nilai jati diri kebangsaan sebagai warga NKRI    
Disamping memiliki potensi wilayah yang strategis bagi pertahanan dan keamanan negara. Namun di beberapa wilayah perbatasan terjadi kesenjangan pembangunan yang cukup besar dengan negara tetangga yang dikhawatirkan dalam jangka panjang akan menimbulkan kerawanan.
Untuk wilayah perbatasan (khususnya perbatasan darat) disamping masih rendahnya dana pembangunan, penyebab utama ketertinggalan adalah akibat dari arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking sehingga seolah-olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan kita.
Sementara itu, pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia sulit berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau. Diantaranya banyak yang tidak berpenghuni atau sangat sedikit jumlah penduduknya, serta belum tersentuh oleh pelayanan dasar dari pemerintah sepertisekolah, puskesmas, dan lain-lain.
Secara umum wilayah perbatasan dipandang dari aspek informasi dan komunikasi. Selama ini lebih mengenai pemerintah dan kebijakan negeri tetangga, sebagaimana terjadi di Kalimantan Barat. Kata Drs. Wikaya Kusuma, MA, peneliti senior di Univ.Tanjungpura Pontianak (Asa di Tapal Batas) Tabloit Dep.Kominfo Edisi Desember 2006.
Direktur Wilayah Administrasi dan Perbatasan, Ditjen Pemerintahan Umum, Dep.Dalam Negeri, Kartiko Purnomo, SH, MPA, mengatakan masih banyak batas wilayah negara yang belum beres, terutama wilayah perairan Indonesia dengan negara-negara perbatasan.
Sedangkan pembangunan perbatasan sudah beres sebanyak 72 Pos Lintas Batas (PLB), mercusuar dan pilar-pilar dikepulauan terluar diperbatasan negara, menelan biaya ratusan milyar rupiah untuk menghindari pencaplokan wilayah kesatuan Indonesia sebagaimana Pulau Ligitan dan Sepadan yang kini milik Malysia dan Pulau Pasir masuk wilayah Australia. Meski perbatasan dengan Malaysia, Singapura, Papua Nugini dan Australia titik-titik koordinat sudah selesai, namun masih dilakukan pemasangan mercusuar untuk diwilayah perbatasan perairan (laut) dan pembangunan PLB yang juga diharapkan dapat mendongkrak makro ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan. Yang belum beres untuk wilayah perairan dengan Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam, Timor Leste. Untuk Timor Leste kini masih terus dilakukan negosiasi dan diplomasi daerah Kupang yang masih tarik ulur, “ Katanya.
Banyak batas wilayah titik koordinat diperairan dengan negara-negara tetangga ini perlu mendapat perhatian kita bersama, “ Disinilah Patriotisme Kebangsaan kita diuji, Dep. Dalam Negeri terus bekerja keras, begitu juga Dep. Luar Negeri berupaya meningkatkan lobby-lobby untuk menyelamatkan wilayah Indonesia “.
Mencegah pencaplokan pulau-pulau terluar, pemerintah telah memasang prasasti, sehingga tidak gampang negara mengklaim pulau itu miliknya. Tapi efektifision dan efektifprinsipil juga harus diperhatikan. Kalau kita lalai mengelolanya bisa terulang kembali kasus Ligitan dan Sipadan,  terhadap Malaysia, dimana selalu terjadi tumpang tindih perbatasan wilayah meski telah disepakati bersama. Mencermati geografis Indonesia teridiri dari Kepulauan dan berhubungan dengan wilayah perbatasan yang banyak.

2.         Aspek Media
Sesuai dengan fungsi komunikasi secara umum dapat dikategorikan menjadi :
1.            Memberi tahu (To Inform)
2.            Mendidik (To Educate)
3.            Membujuk (To Persuade)
4.            Menghibur (To Entertaint)
Dampak dari keberadaan media komunikasi informasi ditengah-tengah masyarakat/lingkungan adalah dapat membawa kedinamisan dan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan dan sektor lapangan kerja dari masyarakat lingkungan/daerah tersebut. Karena media komunikasi informasi dimaksud dapat menyentuh dan mempengaruhi pengetahuan dan cara pandang serta bertingkah laku, walaupun tidak seketika terhadap kehidupan masyarakat di daerah/wilayah dimaksud.
Temuan dari dampak media pada daerah lokasi penelitian ini membuktikan bahwa pada daerah yang dijadikan penelitian di wilayah perbatasan, terutama pada bagian pedalaman, belum optimal mendapat siaran/tayangan dari media Indonesia, malah pada lokasi pedalaman di wilayah perbatasan, masyarakat/penduduk Indonesia lebih dominant menggunakan media (TV/RADIO) siaran/tayangan luar negeri (Malaysia). Sungguhpun pada prinsipnya bagi masyarakat bahwa siaran/tayangan dan bahasan yang digunakan oleh media luar negeri tersebut tidaklah lebih baik dan menarik dibandingkan dengan siaran/tayangan oleh media Indonesia.
Namun disisi lain, media luar negeri lebih unggul dalam hal daya jangkauannyalebih luas dan mudah diakses tanpa menggunakan parabola/antenapun dapat terlihat jelas, berbeda dengan media Indonesia yang harus menggunakan parabola/antenna, juga tidak sejelas/terang dari media Malaysia.
Penduduk di pedalaman wilayah perbatasan dari sisi ekonomi sangat memprihatinkan, malah ada diantara mereka yang terpaksa berpindah-pindah guna mendapatkan lahan pertanian yang bakal digarap dijadikan lahan pertanian. Kondisi ini tentu lebih tidak memungkinkan dapat menerima siaran/tayangan dari media Indonesia   

3.         Wawasan Kebangsaan Dan Jati Diri Bangsa.
·                    Wawasan Kebangsaan
Wawasasan kebangsaan sangat penting dihayati untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke depan. Minimnya rasa nasionalisme terhadap bangsa, bisa memecah kesatuan dan persatuan bangsa yang sudah puluhan tahun terikat.
Suatu bangsa yang tidak mempedulikan akan arti pentingnya wawasan kebangsaan bisa hancur. Terlepas dari berbagaai penyebab dan factor terjadinya kurangnya nasionalisme seperti karena krisis ekonomi dan politik, bangsa Indonesia harus benar-benar kembali akan pentingnya wawasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan itu harus dinomorsatukan dari keutuhan Negara Indonesia.

·                    Jati Diri Bangsa Indonesia
Jati diri bangsa Indonesia dibentuk oleh 4 (empat) Konsepsus dasar yaitu :
1.            Pancasila
2.            UUD-1945
3.            NKRI
4.            Bhineka Tunggal Ika
Empat sumber dasar inilah yang membentuk sikap kita dalam melihat, memandang diri kita sendiri, memandang bangsa lain. Konsep dasar ini pulalah yang menyatukan kebhinekaan tunggal ika kita.    
Dari jawaban hasil wawancara mendalam terhadap informan pada penelitian ini, dapat diketahui bahwa wawasan kebangsaan dan jati diri bangsa Indonesia oelh masyarakat di wilayah perbatasan masih rendah, namun tidaklah luntur atau mengingkari/menolak dari empat konsepsus dasar tersebut.
Bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan tidaklah menampilkan ke-empat konsepsus dasar jati diri tersebut, yang paling mendasar bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan adalah persoalan ekonomi, infrastruktur yang belum tertata, sarana pendidikan, kesehatan yang masih terbelakang, transportasi dan listrik sangat terbatas. Kesemua sarana yang ketertinggalan tersebut bisa terpenuhi, jati diri bangsa Indonesia bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan tidaklah perlu diragukan.
Di sisi lain adalah SDM, peningkatan pendidikan menjadi prioritas utama. Keterbelakangan SDM bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan membuat peranan media tidak banyak artinya karena media lebih difungsikan hanya bertujuan sebagai hiburan.

Kesimpulan
  1. Dari hasil penelitian, terutama berupa wawancara mendalam (Depth Interview) terhadap informan yang dijadikan pada penelitian  “ Peran Media Dalam Pembentukan Opini Masyarakat di Wilayah Perbatasan Mengenai Jati Diri Bangsa Indonesia “, terungkap bahwa wilayah perbatasan masih merupakan wilayah tertinggal dengan saran dan prasarana sosial, ekonomi yang masih sangat terbatas. Wilayah perbatasan menjadi menjadi daerah yang belum tersentuh oleh dinamika pembangunan dan pusat-pusat pelayanan pemerintah lainnya yang menyebabkan masyarakat menjadi relatif miskin dan tertinggal, sehingga secara ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan ini lebih berorientasi kepada negara tetangga Malaysia yang terus membangun ousat-pusat pertumbuhan ekonomi disepanjang koridor perbatasannya melalui berbagai kegiatan ekonomi dan perdagangan yang lebih memberikan keuntungan bagi masyarakatnya.
  2. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa keberadaan media (terutama TV dan Radio) di wilayah perbatasan khususnya di Pulau Kalimantan didapatkan selain siaran dan tayangan nasional, juga peran dan keberadaan media TV dan Radio negara tetangga (Malaysia) lebih eksis, lebih jelas dibandingkan dengan siaran/tayangan nasional. Sehingga dilokasi tertentu yaitu pada bagian pedalaman wilayah perbatasan peran dan keberadaan media luar negeri tersebut lebih dominan, hal ini terkait dengan faktor ekonomi masyarakat karena bagi masyarakat yang  ekonomi lemah, tidaklah dapat membeli seperangkat alat yang digunakan agar bisa mendapatkan siaran nasional, dengan demikian masyarakat tersebut menyerap tayangan/siaran dari negara tetangga (Malaysia)
  3. Tentang jati diri bangsa Indonesia bagi masyarakat wilayah perbatasan, berdasarkan jawaban dari berbagai kalangan dari informan yang dijadikan dalam penelitian ini mengemukakan bahwa jati diri masyarakat di wilayah perbatasan tidaklah luntur, tetapi wawasan mereka dapat dikatakan menurun, tentu suatu kewajaran disebabkan minimnya mendapatkan penjelasan dan informasi nasional yang akhirnya mereka bisa jadi lebih mengenal struktur negara tetangga tersebut dari pada negaranya sendiri.
Saran
Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian “ Peran Media Dalam Pemberitaan Opini Masyarakat Di Wilayah Perbatasan Mengenai Jati Diri Bangsa Indonesia “.
§         Diharapkan kesinergian Pemerintah Pusat, Provinsi dan Daerah guna penataan infrastruktur pembangunan di wilayah perbatasan. Karena keberadaan dan pengguna media informasi sangat tergantung terhadap maju dan tidaknya serta SDMnya dari suatu daerah/wilayah tersebut. Demikian pula penataan dari media informasi tidak terlepas dan senantiasa mempunyai ketertarikan dari keberadaan dan kesiapan sarana dan prasarana lainnya.
Persoalan yang paling mendesak bagi masyarakat Indonesia yang berdomisili di pedalaman wilayah perbatasan adalah masalah ekonomi, dari persoalan ekonomi ini berdampak menurunnya wawasan kebangsaan, oleh karenanya pemerintah harus memprioritaskan pembangunan ekonomi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat akan terbina peningkatan wawasan kebangsaan dan terpeliharanya jati diri bangsa Indonesia, disebabkan masyarakat dapat mengakses media nasional



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar